indonesia malaysia bersaudara

indonesia malaysia bersaudara
indonesia & malaysia

google Translate

Powered By Blogger

rss feed

Tuesday, 26 March 2013

nabi muhammad saw dan kebohongan yahudi .

             Keyakinan kita sebagai umat Islam terhadap kebenaran ajaran Rasulullah Saw tidak didasari oleh apa yang dikatakan mereka di luar Islam. Pegangan ini tetap kuat sebelum dan setelah mereka mengimani kebenarannya. Ia pun semakin kokoh meski mereka menghujatnya dari seluruh arah dengan apa yang mereka punya dari kekuatan fisik dan maknawi.
Olehnya itu, sebelum para perindu taman-taman hikmah kenabian dan pecinta hakikat diajak melihat pancaran cahaya kenabian dan kerasulan Rasulullah Saw yang diberitakan di Taurat, meski mereka menutupinya bahkan membuangnya jauh-jauh dari lipatan-lipatan sejarah dengan penuh kesengajaan, sebelumnya itu penulis ingin mengenalkan Anda hakikat Qur’ani yang memberitahu sikap Yahudi tentang Islam dan Nabinya.
           Di antara hakikat itu, mereka sangat cerdik membolak-balik fakta, yang kehilangan nilai disulap dan disihir menjadi batu mulia berharga, yang benar dipudarkan kekuatan maknawinya, bahkan diangkat dari lembaran-lembaran kitab suci mereka.
Ketidakjujuran Yahudi melihat dan mengakui sebuah fakta disifati Q.S. An-Nisa’ [4]: 46 dan Q.S. Al-Maidah [5]: 13 seperti berikut:
            قَالَ اللهُ تَعَالَى: )مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا(.
            قَالَ اللهُ تَعَالَى: )فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(.
Di antara sifat keji mereka, ada yang dibahasakan kedua ayat di atas dengan kalimat yang sama, yaitu: (يُحَرِّفُوْن الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ), sementara itu, di ayat lain sifat ini datang dengan kalimat yang hampir serupa susunannya dengan kalimat pertama tersebut, yaitu: (يُحَرِّفُوْن الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ) seperti di Q.S. Al-Maidah [5]: 41
قَالَ اللهُ تَعَالَى: )يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا(.
Di sini, sifat mereka di kedua ayat pertama datang dengan kata penghubung (عَنْ) dan di ayat kedua dengan (مِنْ بَعْدِ). Apakah yang melatarbelakangi perbedaan sistematika kedua kelompok ayat ini, sementara topik utama mereka sama, yaitu kejahatan Yahudi dalam memainkan kitab suci Allah? Apakah di sana ada perbedaan makna?
Para ahli tahkik dari kalangan mufassir menafsirkan kalimat pertama (يُحَرِّفُوْن الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ) dengan penafsiran yang cukup luas. Kegemaran mereka mengubah kitab suci Allah dapat diartikan dengan mengangkat kalimat-kalimat Allah dari tempatnya, atau memaknai ayat-ayat Allah (ta’wil) dengan arti yang jauh dari kebenaran sesuai kehendak nafsu mereka, atau menambah dan mengurangi hasil perbincangan mereka dengan Rasulullah Saw.
                       Di lain sisi, mereka melihat bahwa kalimat kedua: (يُحَرِّفُوْن الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ) lebih menekankan jenis perubahan tertentu yang mereka lakukan dengan mengabaikan hukum-hukum Taurat yang tidak layak menurut mereka untuk dipatuhi, seperti hukum rajam,  hukum itu dibuang dari tempatnya tanpa diganti dengan hukum lain. Tentunya, kejahatan inilah yang paling terburuk, kejahatan yang ditangani langsung oleh kelompok tertentu dari mereka yang tugasnya hanya membatalkan hukum-hukum Taurat yang sulit atau berat menurut mereka untuk dikerjakan.
Olehnya itu, wajar jika mereka disifati dengan sifat abadi Q.S Al-Baqarah [2]: 120 sebagai kaum penghasut yang kedengkian dan kebenciannya terhadap umat Islam tidak akan pernah surut dan padam.
Di antara hakikat Qur’ani yang mereka ingkari kedatangan Rasulullah Saw di Madinah, kota hijrah Rasulullah Saw yang diyakini kebenarannya oleh sebagian ahli kitab sendiri.
Salamah bin Salamah bin Waqash (termasuk ahli perang Badar) berkata:
       “Ada seorang Yahudi yang hidup bertetangga dengan kami di Bani Abd al-Asyhal. Ia diriwayatkan mendatangi para penyembah berhala dan memberitahu mereka kebenaran hari kiamat, kebangkitan, perhitungan amal manusia, mizan amal, neraka dan surga. Mereka pun menjawab: “celakalah engkau! Apa Anda benar-benar meyakininya, meyakini bahwa suatu saat manusia akan dibangkitkan kembali dari kematian ke tempat yang memperlihatkan surga dan neraka dan para penduduknya mendapatkan balasan amal mereka masing-masing?“            Jawabnya: “ya, di sana ada yang lebih bercahaya dari cahaya api neraka, ia akan nampak di kota Madinah ini, yang melindunginya dan mengizinkannya memenuhi sudut-sudut kota Madinah mereka itulah yang selamat dari api neraka.” Mereka kembali berkata: “celakalah engkau! Apakah tandanya?”           Jawabnya: “seorang nabi yang diutus dari negeri ini (dengan mengisyaratkan tangannya ke Mekah dan Yaman).” Mereka kembali bertanya: “kapan Anda akan melihat nabi ini?” Jawabnya sambil melirik kepadaku yang termuda dari mereka: “jika anak lelaki ini ditakdirkan panjang umur, ia akan melihatnya.” Salamah berkata: “demi Allah, tidak cukup lama perkataan ini berlalu dari pendengaran kami hingga Allah mengutus Nabi Muhammad Saw, kami pun mengimaninya dan mereka mengingkarinya. Kami berkata kepadanya: “celakalah engkau! Bukankah kau sendiri yang mengatakan kepada kami apa yang telah engkau katakan kemarin?” jawabnya: “ya, tetapi yang datang itu, bukanlah nabi yang kami nanti-nantikan.”
Di riwayat lain ada sekelompok orang dari kaum Ashim bin umar bin Qatadata berkata:
          “yang mendorong kami memeluk Islam (tentunya dengan rahmat Allah dan petunjuk-Nya), kami pernah mendengar dari orang-orang Yahudi -mereka ahli kitab, sementara kami penyembah berhala, mereka punya ilmu yang tidak kami miliki, di antara kami terselubung kebencian, jika kami melakukan sesuatu yang mereka benci, mereka mengatakan kepada kami-: “sesungguhnya telah dekat waktu kedatangan nabi yang akan memimpin kami memerangi dan memusnahkan kalian (kaum Aus dan Khazraj) seperti kemusnahan kaum Ad’ dan Iram).” Kami sering mendengar ini dari mereka.
Di saat Rasulullah Saw diutus kami pun mengimaninya dan mereka mendustainya. Yang demikian itu karena kami mengetahui ancaman orang-orang Yahudi tersebut… Olehnya itu, kepada kami dan mereka Q.S. Al-Baqarah [2]: 89 diturunkan:
)وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ(.(
Apakah yang menyebabkan mereka mendustai kedatangan Rasulullah Saw sebagai Nabi penutup akhir zaman? Bukankah di Taurat sendiri ada beberapa ayat-ayat yang mengisyaratkan ke sana?
Bukankah perjanjian lama (الْعَهْدُ الْقَدِيْمُ),  kitab kejadian: ayat 21, ishah 21 teks kuat yang menegaskan berkah Nabi Ismail A.S yang bertempat tinggal di gunung Fârân?
Bukankah kitab ulangan: ayat 18, ishah 15-18 keterangan-keterangan kuat terhadap berita kedatangan Nabi ummi (yang tidak tahu baca tulis) yang diberitakan sendiri oleh Nabi Musa A.S bahwa Nabi ini datang dari bangsa mereka sendiri (bangsa Arab) seperti Nab Musa A.S yang datang dari kaumnya sendiri (Bani Israil)?  Bukankah yang ummi dari Nabi-nabi Allah itu Rasulullah Saw?
Bukankah kitab ulangan: ayat 33, ishah 1-3 menyatakan dengan jelas berkah kenabian dan kerasulan yang Allah nampakkan di pegunungan Sinai, Sair, dan Fârân?
Bukankah Taurat diturunkan ke Nabi Musa A.S di gunung Sinai? Bukankah Injil diturunkan ke Nabi Isa A.S di Sair? Bukankah Fârân (salah satu gunung di pegunungan kota Mekah) tempat turunnya Al-Quran?
Fârân ini nama kota Mekah di bahasa Ibrani. Di perkataan lain Fârân nama pegunungan di kota Mekah, dan kadang juga nama ini diartikan ke semua daerah pegunungan di Hijaz.  Sementara itu, Kamus al-Kitab al-Muqaddas melihat bahwa Fârân ini nama padang pasir di bagian selatan Palestina yang berbatasan dengan Sinai hingga ke Îlat (Aqabah).
Tentunya, menempatkan Fârân di antara Sinai dan Sair sebuah penempatan yang salah secara geografis.
Di samping itu, mereka pun merubah sifat-sifat Rasulullah Saw yang diberitakan Taurat dan menempatkan Nabi Adam A.S sebagai pemilik sifat-sifat tersebut.  Sifat-sifat tersebut, seperti: berkulit putih bersih kemerah-merahan, yang sedang tingginya, seperti yang diberitakan di Sunan Imam at-Tirmidzi.
Sifat lain Rasulullah Saw yang dihapus dari Taurat oleh tangan-tangan kotor mereka seperti yang diriwayatkan Ka’ab al-Ahbar:
          “Ahmad hamba pilihan-Ku, tidak keras hati, tidak kasar, dan tidak suka menciptakan kebisingan dan hiruk-pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, suka memaafkan dan senantiasa meminta ampunan dan rahmat-Nya untuk tempat lahirnya Bakka (Mekah) dan tempat hijrahnya Taba (Madinah), dan umatnya yang senantiasa memuji Allah di setiap inayah-Nya, bertasbih di rumah-rumah mereka, membasuh anggota tubuh mereka dengan air wudhu’, dan menutup seperdua tubuh mereka dengan kain panjang, menjaga waktu dan menghargainya, azan mereka terdengar bergema di udara, barisan mereka terlihat tertata rapi di peperangan dan shalat, ahli ibadah di malam hari, singa di siang hari, suaranya seperti suara lebah beterbangan, menegakkan shalat di mana pun waktu shalat itu mendatanginya, meski di atas kotoran.
Teks ini sudah tidak ada lagi di Taurat, kebutaan dan kedengkian mendarah daging telah membuangnya jauh-jauh dari tempat aslinya. Meskipun demikian, Anda dapat menemukan potongan pertama dari riwayat   ini di riwayat Ka’ab al-Ahbar di Dalâil an-Nubuwah.

Peta Hari Libur Nasional Negara-Negara di Dunia

Peta hari libur nasional negara-negara di dunia. (Max Fisher/Washington Post)
negara -negara di udnia 

dakwatuna.com - Peta ini, terinspirasi oleh sebuah thread di   reddit dengan peta yang sama, menunjukkan hari-hari nasional beberapa negara di dunia. Seperti yang Anda lihat, di dunia ini sebagian besar terbagi antara negara-negara yang merayakan hari kemerdekaan nasional dan negara-negara yang merayakan unifikasi nasional atau hari revolusi. Dan hanya dua negara tidak memiliki hari nasional formal sama sekali. Berikut ini adalah empat hal yang ditemukan menarik tentang hal ini:
         1) Ya, sebagian besar dunia dibentuk oleh kolonialisme.
Sungguh ‘menakjubkan’ betapa banyak peta berwarna hijau, menunjukkan negara-negara yang merayakan hari kemerdekaan nasional setiap tahun. Tidak semua hal tersebut menandai berakhirnya kolonialisme (misalnya, di Austria hal ini menandakan penarikan militer asing setelah Perang Dunia II dan deklarasi netralitas) tetapi mayoritas negara lakukannya. Dan bahkan sejumlah negara biru, seperti Australia dan Kanada, sebenarnya produk dari kolonialisme.

Sunday, 24 March 2013

Fakta Menakjubkan Nyamuk dan Keajaiban Al Quran

nyamuk

”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)
 
Setiap hari terdapat penemuan-penemuan baru seputar makhluk kecil nan lemah ini (nyamuk). Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa nyamuk dapat mencari tahu di mana posisi seseorang dari hembusan nafas orang tersebut!