indonesia malaysia bersaudara

indonesia malaysia bersaudara
indonesia & malaysia

google Translate

rss feed

Friday, 31 May 2013

UJIAN DALAM HIDUP muslim.

   Ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang muslim bisa berupa
dua hal: ujian yang berbentuk musibah dan ujian kenikmatan. Sering kali yang
pertama disebut oleh manusia sebagai ujian yang buruk dan yang kedua disebut
sebagai ujian yang baik. Namun, pada hakikatnya keduanya merupakan ujian dari
Allah. Keduanya memiliki potensi yang sama. Jika lulus menghadapinya akan
mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Bagi orang yang beriman, sebenarnya ada rumus umum tentang ujian itu. Bahwa
seorang yang lebih kokoh keimanannya akan mendapatkan ujian yang lebih berat.
Dengan mudah kita bisa menganalogikan bahwa ujian murid SD lebih mudah
daripada ujian murid SMP. Sama halnya UAS BN bagi SMU lebih sulit daripada
UAS BN bagi siswa SMP. Kaidah itu berlaku dalam ujian hidup bagi seorang
mukmin; semakin besar keimanan, semakin berat ujiannya.
Rasulullah SAW pernah menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash mengenai
tingkatan ujian itu.                                                                                                 
Sa'ad bin Abi Waqash) bertanya: "Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat
Ujiannya?" Beliau menjawab, "Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya,
kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya.
Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah
maka akan ...diuji sesuai kadar kekuatan agamanya." (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu
Majah; Shahih menurut Al-Albani)
Maka kita melihat betapa sejarah telah menceritakan bahwa ujian-ujian yang paling
berat dialami oleh para Nabi dan Rasul.                                                    Demikian pula ujian yang telah dihadapi
oleh salafus shalih dan para ulama'.
Jika keimanan berbanding lurus dengan besarnya ujian, sesungguhnya besarnya
pahala juga berbanding lurus dengan besarnya ujian. Semakin berat ujian seseorang
semakin besar pula pahala yang diperolehnya manakala ia lulus dalam
mengahadapinya. Dan ujian itu juga merupakan tanda cinta dari Allah buat hambahamba
terkasih-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. sesungguhnya,
apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia mengujinya. Siapa yang ridha
dengan ujian itu, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya. Siapa yang membenci
ujian itu, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah, dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah)
Ikhwani fiddin rahimakumullah,
Jangan dikira bahwa ujian itu hanyalah musibah; sakit, kemiskinan, kesusahan,
keterbatasan, penderitaan, kecelakaan, dan sejenisnya. Kekayaan, kesenangan,
Bersama Dakwah
Khutbah Jum'at Ujian Hidup Bagi Muslim
popularitas, jabatan, kepemimpinan, kekuasaan, dan sejenisnya juga merupakan
ujian. Bahkan ujian tipe kedua ini sering kali lebih berat. Dalam arti, tidak banyak
yang bisa menghadapinya dengan sikap yang benar lalu keluar sebagai pemenang
dalam pandangan Allah; lulus ujian.
Abdurrahman bin Auf pernah menggambarkan betapa beratnya ujian ini, dan betapa
banyaknya orang yang tidak lulus menghadapi.                                                                                               Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasulullah SAW dan kami
dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau
wafat, dan kami pun tidak dapat bersabar. (HR. Tirmidzi; hasan menurut Al-Albani)
Tampaknya demikianlah sejarah mengatakan kepada kita; menguatkan apa yang
dikatakan Abdurrahman bin Auf. Banyak orang yang ketika diuji dengan kemiskinan
ia mampu menghadapinya dan justru kemiskinan itu semakin meningkatkan
ibadahnya dan menambah kedekatannya kepada Allah. Namun, begitu kaya, ia lupa
dengan ibadah-ibadah yang dulu dijalaninya.
Ada pula orang yang sebelumnya rajin ke masjid dan gemar berinfaq sewaktu
menjadi orang biasa. Namun saat Allah memberinya jabatan, ia justru lupa kepada
Allah dan menjadi tidak peka terhadap orang-orang yang dulu mendukungnya.
Secara institusi, ujian kenikmatan itu juga kerap mendekontruksi bangunan kebaikan
dalam organisasi yang dulunya bisa bersabar dalam keterbatasan. Kasus kontroversi
pencalonan artis dan selebritis dalam pilkada, yang membuat partai berbasis Islam
pecah adalah contoh betapa kekuasaan itu lebih berat daripada ujian ketidakamanan
saat berada di bawah pemerintahan yang represif.
Pendek kata, apapun yang menimpa kaum muslimin; baik itu ia sukai atau tidak ia
sukai, sesungguhnya adalah ujian. ada yang lulus ada yang tidak lulus dalam
menghadapinya. Dan kenikmatan, seringkali justru menjadi ujian yang lebih berat
dibandingkan kesusahan.                                                                    Allah telah memberikan petunjuk umum dalam menghadapi ujian, agar
hamba-hamba-Nya bisa lulus ujian dan mendapatkan pahala serta meningkat
derajatnya.
Ada dua hal yang harus dimiliki atau dilakukan dalam menghadapi ujian itu; apapun.
Baik berbentuk ujian kesusahan maupun ujian kenikmatan. Dua hal itu adalah
kesabaran dan ketaqwaan.
Allah SWT berfirman.                                                                                 "Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk

  urusan yang patut diutamakan. (QS. Ali Imran : 186)
Bersabar dan bertaqwa. Itulah kunci sukses menghadapi ujian. tentu saja bentuk
kesabaran ini akan berbeda saat ia berhadapan dengan ujian kesusahan dibandingkan
saat menghadapi ujian kenikmatan. Bentuk kesabaran saat menghadapi ujian
kesusahan adalah dengan mengedepankan sikap ridha pada Allah atas takdir-Nya,
mengambil hikmah dari ujian itu, serta mengeluarkan segala ikhtiar untuk keluar dari
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
Bersama Dakwah
Khutbah Jum'at Ujian Hidup Bagi Muslim
Sementara kesabaran dalam menghadapai kenikmatan, entah itu berupa kekayaan,
jabatan, ataupun hal lainnya adalah dengan berhati-hati agar tidak terjerumus pada
hal-hal yang berlebihan, hal yang diharamkan, serta menyadari sepenuhnya bahwa
itu adalah dari Allah semata, lalu mempergunakannya di jalan Allah Azza Wa Jalla.
Jika yang demikian bisa dilakukan, insya Allah akan didapati hasil akhir yang sangat
memuaskan sebagaimana hadits Nabi:                                                                                                Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allah membiarkannya
berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa. (HR. Tirmidzi dan An-Nasai,
dishahihkan Al-Albani .

No comments: